Global warming atau pemanasan global merupakan persoalan yang telah lama muncul. Keadaan itu dibuktikan dengan semakin panasnya suhu bumi dan polusi udara dimana-mana. Hal tersebut akan mempercepat kerusakan bumi, karena semakin lama kadar karbondioksida yang ada di bumi semakin meningkat. Adanya fenomena ini memunculkan banyak penelitian tentang Teknologi Energi yang berkelanjutan, dan solusi-solusi yang harus dilakukan dalam menghadapi persoalan tersebut. Hal itu mendasari adanya kerjasama mengenai Teknologi Energi Berkelanjutan antara Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Eindhoven University of Technology, Belanda.
J.P.Patrick.Van.Schijndel sebagai wakil dari Belanda, mengadakan kunjungan selama dua hari sejak 24-25 Januari di UMY. Kunjungan tersebut telah memunculkan beberapa agenda kerjasama antara lain kesepakatan mengenai pengembangan materi dan kegiatan tentang Teknologi Energi Berkelanjutan, serta kerjasama untuk mempromosikan hal tersebut hingga ke beberapa wilayah di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut Patrick mengatakan bahwa, kerjasama ini merupakan kelanjutan dari symposium mengenai ‘Teknologi Energi Berkelanjutan’ yang telah diadakan di Bogor pada Juli 2006. Kerjasama Indonesia-Belanda yang bernama “Dutch-Indonesia Energy Working Group” ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak dalam menghadapi pemanasan global dan pemanfaatan Teknologi Energi.
Kunjungan hari kedua tamu dari Belanda tersebut diisi dengan diskusi dan pemutaran film. Diskusi mengenai Global Warming dan Sustainable Development tersebut diikuti oleh seluruh Dosen Fakultas teknik UMY. Film yang diputar selama kurang lebih satu jam, merupakan film mengenai Global Warming dan film documenter tentang perubahan alam yang terjadi di beberapa wilayah di dunia.
Keanegaragaman Hayati Diambang Kepunahan
Pemanasan global dapat menyebabkan kepunahan dari sebagian besar ekosistem dunia yang amat berharga. Bahkan hidupan liar yang ada di tempat-tempat konservasipun tidak bisa menghindari ancaman besar ini.
Beruang kutub semakin kehilangan habitatnya. Di Antartika, dimana suhu rata-rata telah meningkat sekita 4.5 derajat Farenheit dalam 50 tahun terakhir, gumpalan es sebesar pulau Rhode seberat 500 milyar ton terpisah dari es Larsen-B dan jatuh ke laut.
Saat ini terumbu karang dunia dalam kondisi yang memprihatinkan. Terumbu karang sangat sensitif terhadap panas. Kenaikan 1oC pada temperatur laut dapat mengakibatkan pemutihan pada terumbu karang dan pada akhirnya akan mati. Pemutihan karang yang paling parah terjadi pada 1998.
Dalam laporan penelitian WWF, Habitats at Risk: Global Warming and Species Loss in Terrestrial Ecosystems, ditemukan bahwa dengan beberapa asumsi mengenai pemanasan global di masa depan dan dampaknya terhadap beberapa tipe vegetasi utama, kepunahan spesies akan terjadi di kebanyakan ekoregion signifikan di bumi.
GLOBAL WARMING - termasuk tanda-tanda kiamat, kah?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Grab this Widget ~ Blogger Accessories Custumized by Yuniarto Rahardjo
0 komentar:
Posting Komentar
Comment