
Kau tahu, bisa jadi kebahagiaan itu terletak pada apa yang selalu berusaha kita jauhi. Entah mungkin karena ketidak sadaran kita sehingga kita seringkali tidak pernah menyadarinya. Entah mungkin karena ego kita yang terlalu besar sehingga dia tidak pernah benar-benar terlihat, tertutup dengan api kesombongan yang terus kita pelihara. Sudah terlalu sering sepertinya, mata kita tertimbun debu-debu kebutaan akan apa sebenarnya obat yang kita butuhkan. Kita lebih bisa membelalakkan mata, ketika ada satu lagi obat penenang sementara dengan bungkus dan juga kemasan baru.
He, kau tahu, mungkin kebahagiaan sejati itu ada di tempat yang selalu kita jauhi. Kita menemukan ketakjuban baru setiap kita menginjakkan kaki di tempat baru, apalagi tempat itu berhiaskan fakta sejarah yang memujanya, apalagi kalau tempat itu sebegitu terkenalnya sehingga kita ingin memberi tahu semua orang, kita pernah menyisakan jejak kita di sana. Entah kenapa kita bahagia dengan tempat-tempat itu, kita seakan terlecut kembali untuk lagi dan lagi menemukan tempat baru lainnya. Tapi sekali lagi, bisa jadi kebahagiaan sejati itu ada di tempat kumuh, tempat biasa yang selalu kita jauhi. Rumah. Kata yang mungkin tidak selalu istimewa bagi sebagian orang. Kata itu bisa jadi tidak melambangkan kebanggaan apapun untuk diceritakan kepada orang lain. Rumah. Kata itu mungkin tidak terlalu menjadi tempat menggairahkan ingatan, atau malah sebaliknya, menyesakkan memori. Tapi bisa jadi, tempat yang selalu kita jauhi itu, tempat tidak istimewa itu, adalah tempat dimana kita akan menemukan kebahagiaan sejati. Siapa tahu.
Mungkin juga, kebahagiaan itu ada pada kesadaran saat kita melakukan, bukan pada saat kita melakukan karena sebuah rutinitas. Betapa kita bahagia ketika kita pertama kali mengetahui dan sadar bahwa kita sudah bisa bersepeda, untuk pertama kali dalam hidup kita, kita bisa mengayuh dua buah pedal dengan kedua kaki kita tanpa ada seseorang yang sedang memegangi kita. Untuk pertama kali dalam hidup kita, kita sadar bahwa kita sedang duduk di sadel sepeda tanpa ada seseorang yang ada di belakang yang memandang dengan perasaan khawatir kalau-kalau kita terjatuh. Kita sadar dan yakin atas apa yang sedang kita lakukan. Tapi setelah sekian lama, setelah sekian tahun, rutinitas bersepeda itu tidak mengasyikkan lagi, bahkan kita ingin berpindah kepada sesuatu yang lebih hebat lagi, motor atau kapal terbang. Kita melupakan kenikmatan bersepeda itu.
Kau tahu, ini mungkin paling berat bagi sebagian orang, bahwa bisa jadi kebahagiaan itu ada bersama orang yang selalu kita lupakan, orang yang jarang kita ingat. Ini mungkin paradoks –bagi sebagian orang— ketika kebahagiaan sejati itu akan hadir ketika kita kembali melihat ke masa lalu dan mulai memikirkan orang-orang yang pernah mampir dalam kehidupan kita, dan kita akan melihat, ada diantara mereka, segelintir orang yang sering kita lupakan kebaikan-kebaikannya, sering kita balas pedih kasih dan sayangnya, bahkan mungkin kita tidak selalu merasa senang bersamanya. Mungkin mereka bukan orang terkenal, bukan juga orang terpandang. Tapi coba lihat lagi lebih dalam dalam memorimu, dialah yang akan selalu bersedia menderita untuk kebahagiaanmu. Coba ingat-ingat lagi, dialah yang menyelimutimu saat dingin sementara dirinya hanya berbalut baju tipis. Dialah yang berteriak ketika mendapatimu terjatuh, dialah yang selalu tersenyum bahkan ketika kau memakinya, bukan apa-apa, hanya karena dia menyayangimu, tanpa pernah memikirkan balasan apapun darimu.
Kalau begitu, mungkin secepatnya kita harus memikirkan kembali, ya, kembali mengingat, apa sebenarnya yang apa menjadi kebahagiaan kita, dimana kebahagiaan kita itu bersumber dan kembali berterimakasih pada orang-orang yang telah berkasih sayang dengan kita. Dan setelah itu, sepatutnya kita bersyukur, bersyukur kepada Allah atas hidup yang begitu indah. Bersyukur dengan hati yang senantiasa ingat, bersyukur dengan lidah yang selalu basah, bersyukur dengan raga yang terus bergerak.
Letak Kebahagiaan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Grab this Widget ~ Blogger Accessories Custumized by Yuniarto Rahardjo
0 komentar:
Posting Komentar
Comment