Bismillahirrohmanirrohim...
Saya memulai tulisan ini dengan sebuah harapan. Harapan agar kita bisa mengenal sejatinya diri kita. Mengenal pelupuk terdalam dalam intisari kehidupan kita. Sebuah harapan agar kita bisa menemukan lubuk paling inti dari kehidupan yang kita jalani hingga hari ini –terutama untukmu wahai kader dakwah.
Aku mengkhususkan tulisan ini untuk yang telah mengenal dakwah, terjun dalam—atau paling tidak mengidentikkan dirinya— dalam dinamikanya. Karena, aku telah menjadi bagian di dalamnya sekian tahun, namun aku belum juga bisa menjadi batu bata yang membaguskan istana itu. Jauh dan masih jauh. Tapi saudaraku, tulisan ini bukanlah sebuah keluh kesah atas ketidak berdayaan, melainkan sebuah usaha merekam jejak atas pemahaman baru, paradigma baru dan juga cara baru bercermin yang hinggap di dalam guguran detik, jam dan hari bersama Jama'ah ini.
Saudaraku, hari ini aku dikejutkan lagi dengan pertanyaan sejauh mana saya, kamu, kita telah benar-benar mengenal da'wah ini?. Sebuah buku yang telah lama aku dengar, telah lama aku tahu—tapi belum pernah ku baca—menggodaku dari rak buku perpustakaan. Memoar Hasan al-Banna—untuk dakwah dan para da'inya—.
Jujur saudaraku, buku itu menamparku dengan begitu telak. Membekaskan merah di dalam hati dan pikiranku.
Kemana saja aku selama ini?
Terus terang, ini juga merupakan sebuah jawaban lain atas kegelisahanku beberapa waktu ini. Kegelisahan tentang identitas keislaman. Suasana Kartasura membuat sebuah kesadaran baru dalam paradigma keislaman saya. Banyak pelajaran-pelajaran dasar dalam tarbiyah yang baru bisa saya pahami kedalaman maknanya di sini.
Saya mencoba melihat tulisan-tulisan saya terdahulu, saya lebih suka mengutip lagu-lagu barat daripada Alquran—lalu dimana letak kebanggaan akan Alquran.
Saya bisa menghafal lagu, bertambah satu setiap hari, namun setiap hari itu pula, hafalan Alquran saya berkurang—lalu dimana letak izzah sebagai muslim.
Saya menulis dengan menghadirkan pendapat-pendapat ilmuan barat—yang jarang mandi—seperti Immanuel Kant atau—yang tidak pernah cukur kumis—seperti Nietzche, daripada mengutip tulisan dari penulis muslim yang begitu hebat dalam menjaga akhlak dan perilakunya, seperti Bukhari yang selalu berwudhu dan berdoa sebelum menuliskan setiap bait hadist yang ia dapatkan. Lalu dimanakan letak ketinggian diri sebagai seorang muslim?
Ah, kemana saja aku, kamu dan kita selama ini?
Hari ini, buku Memoar Hasan al-Banna, memberikan aku sebuah kisah berupa catatan harian seorang yang lahir dan begitu bangga dengan keislamannya—sedari kecil.
Al-Banna kecil [9 tahun] telah membuat laskar kecil bersama teman-temannya. Laskar yang mengirimkan nasehat berupa lembaran peringatan kepada seseorang karena telah berbuat maksiat—tanpa diketahui. Sampai guru sekaligus ulama yang mengajarinya juga mendapatkannya.
Al-Banna remaja [12 tahun] telah berjalan-jalan di kotanya petang hari menjelang fajar setelah melakukan sholat tahajjud, dan berazam dalam hati, bermimpi bisa membangunkan seluruh kota untuk sholat subuh berjamaah.
Al-Banna remaja beranjak dewasa [22 tahun] telah memimpin Ikhwanul Muslimun yang kantor cabangnya tersebar di lima belas kota di Mesir, membawahi puluhan ulama-ulama besar. Seringkali ia mengecewakan jamaah yang telah menunggu kedatanggannya. Mereka mengira akan menemui seorang syaikh besar, berjubah tebal, beruban dan tua, tapi yang mereka dapati hanyalah seorang pemuda yang belum genap 25 tahun.
Tak bisa saya tahan untuk tidak menuliskan percakapan Albanna dengan seorang wartawan. Suatu ketika seorang wartawan bertanya kepada Hasan Al banna, tentang diri beliau, sang wartawan meminta agar beliau menerangakn sendiri tentang dirinya kepada masyarakat, Imam syahid pun menjawab : “Akulah petualang yang mencari kebenaran, Akulah manusia yang mencari makna dan hakekat kemanusiaannya ditengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air dibawah naungan Islam yang hanif. Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasisa wujudnya, maka Ia pun berseru, ‘Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, tuhan semesta Alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Inilah Aku. Dan kamu, Kamu sendiri siapa?

Inilah Aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa?...
Saudaraku, kau tidak perlu menjawab pertanyaan itu sekarang. Aku memulai tulisan ini dengan sebuah harapan. Aku tutup juga tulisan ini dengan sebuah harapan, harapan agar kau terbangun esok hari dengan usahamu untuk—mencari, meminjam atau membeli—kemudian membacanya.
Kesadaran
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Grab this Widget ~ Blogger Accessories Custumized by Yuniarto Rahardjo
0 komentar:
Posting Komentar
Comment