
Separuh jiwamu telah menanti
Siapa yang tak kenal hadits berikut:
"Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka segeralah menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi)." (HR. Bukhari).
Banyak yang sudah bekerja dan ngaji tinggal menunggu tiap bulan, yang penguasaha tinggal menghitung tiap hari, Apa lagi yang ditunggu. Kasihanilah mereka, Yang dalam tiap sepertiga malamnya memohon dengan sangat, menetes dari sudut bola matanya dan berdoa:
"Ya rabb, beri aku tanda jika ia adalah jodohku
tunjukkan segera siapa yang pantas untukku
aku sudah siap untuk ia9ikhwan) yang akan melabuhkan cintanya...."
Terlalu lama tertahan dengan angan-angan, ketahuilah bahwa itu adalah godaan setan. Tidakkah engkau ketahui kutamaan dan keindahannya. Menikah bukan sekedar menjadi halalnya farji seorang wanita, menikah bukan sekedar berlabuhnya cinta yang kau punya, bahkan segala halnya berpeluang mendatangkan pahala.
Ibnu Katsir meriwayatkan satu hadits dari Anas bin malik dalam tafsirnya,"ada satu amalan yang tidak diniatkan tapi mendapatkan pahala, yakni memberi mencari nafkah untuk keluarganya dan memberi makan kuda yang dipakai untuk berjihad di jalan Allah. Subahanallah, apa yang membuatmu tertahan untuk menikah?...
Sudah siap wanita yang seperti Asma' binti abu Bakar, yang rela dengan kemiskinannya berbakti kepada suami, sudah siap wanita yang seperti Khadijah binti Khuwalid yang dengan hartanya mendukung dakwah rasul, apakah engkau mendamba wanita yang seperti Fatimah binti Muhammad yang siap membuat adonan roti demi mengobati rasa lapar Ali bin Abu Thalib, mau yang mana yang engkau pilih wahai ikhwan?...
Ditunggu, seorang ikhwan yang siap mental, diuji keberanianya untuk mengkhitbah bidadari-bidadari yang siap melayani. Kapan lagi...
(¯`*•.¸♥ surat cinta sang kekasih ♥¸.•*´¯)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Grab this Widget ~ Blogger Accessories Custumized by Yuniarto Rahardjo
0 komentar:
Posting Komentar
Comment