Solidaritas kita di tengah bencana

terpujilah kepada para relawan yang pergi ke daerah bencana. dengan modal sendiri mereka menungumpulkan dana, membelanjakan dan mengangkutnya langsung ke titik-titik pengungsi yang susah terjangkau. beberapa relawan dari tim tegana mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan orang lain.

dan apa yang telah aku lakukan untuk mereka? nyaris tak berarti. selain dengan semangat meretweet informasi yang ada di timeline tanpa memperhatikan isinya yang tenggelam. atau sesekali menyerukan dan mengajak semua onliner mendoakan para korban bencana agar diberi ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi musibah.

dan aku sudah merasa menjadi orang paling pemurah sedunia. padahal aku belum membantu serupiah pun. apalagi sampai ke medan langsung seperti relawan. pengen sih datang kesana, namun takut terjebak menjadi wisata bencana. tapi tak apa-apa, cukup sebentar saja asal orang sedunia mengetahuinya. untuk itu aku kesana dengan membawa bendera.

melihat rencanaku, seorang kawan mengomentariku. katanya bencana yang aku alami lebih dahsyat dibanding wasior, mentawai dan merapi. bencana itu bukan di luar sana, tapi ada dalam diriku sendiri. bencana itu adalah ketika aku hanya mau menyumbang ketika diminta, dan lebih celaka lagi tak mau membantu ketika kita sebenarnya sanggup.

tapi bagaimana kalau aku menyumbangnya dengan tidak ikhlas?

tidak apa-apa. ini adalah langkah awal untuk berlatih. bukankah untuk bisa push up dengan satu jempol harus dimulai dengan rasa sakit? satu-satunya cara untuk bisa ikhlas adalah dengan latihan. menyumbang banyak tetap lebih baik meski tak ikhlas daripada hanya memberikan senyum penuh ketulusan.

berarti aku tak memperoleh pahala di sisi Tuhan?

lupakan, orang yang selalu menghitung-hitung pahala untuk dirinya sendiri itu adalah orang yang paling egois sedunia. kita tak pernah tahu dan tak akan pernah tahu apakah kita memperoleh pahala atau tidak. itu bukan urusan kita. kita hanya bisa sekedar berpersepsi saja.

tapi kan aku kan sudah sering mendoakan mereka, cek aja di timeline saya?

mendoakan itu tak kalah penting, namun para pengungsi, para korban bencana itu sudah bisa melakukannya sendiri. beri mereka apa yang mereka tak punya, beri mereka sesuatu yang real diperlukan. makanan atau terapi kejiwaan buat mereka. transfer uang adalah selemah-lemahnya bentuk bantuan.

Related Posts by Categories



0 komentar:

Posting Komentar

Comment