
Aku membuka kelopak mata di pagi hari dan menoleh, sungguh tidak ada yang kebetulan. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana Tuhan. Mencoba mereka-reka. Berapa banyak orang di bumi? Ada berapa banyak orang di Indonesia? Dan, berapa persen probabilitas aku bertemu seseorang dalam hidupku? Kecil sekali, bukan? Tapi mengapa di antara probabilitas yang kecil itu Aku malah bertemu dengan kalian? Aku yakin ini tidak terjadi secara kebetulan.
Aku merangkak bangun, meraih berdiriku. Kembali mengernyitkan dahi, bahwa pena telah terangkat dan tinta garis tangan telah kering. Aku melihat bahwa kalian berbaris, datang satu persatu dalam kehidupanku memang disengaja. Tuhan sengaja mempertemukan kita bersama sebuah rencana. Tuhan ingin memberikan pelajaran kepadaku, dengan perantara kalian.
Air mengaliri pori-pori wajahku. Merembes setetes demi setetes. Menyeka kulit yang tertidur untuk segera bangun, membuka pelepah hari yang baru. Seperti setiap kaum yang pasti datang kepadanya kebenaran lewat para rasul, kalian adalah orang-orang khusus utusan Tuhan untukku.
Aku berjalan dan sesekali berlari berputar, kadang jatuh dan juga berhenti. Aku bertemu dengan wajah yang benar-benar ku kenal dan juga wajah yang benar-benar tidak aku kenal. Aku tertawa bersama ratusan deret gigi dan juga menangis sendiri di pojok kamar gelapku. Di antara dua emosi itu aku bisa menyunggingkan senyum dan mengulang kata-kata Joan McIntosh, “Accept the pain, cherish the joys, resolve the regrets; than can come the best of benedictions – ‘if I had my life to live over, I’d do it all the same.”
Aku lelah dan terduduk. Maaf dan terimakasih adalah dua muka koin pamungkasku untuk kalian. Senyum tulus, ujar kata, uluran tangan, dekap mesra, jinjingan nama dan hangatnya saudara. Bisa dariku tapi tentu saja lebih banyak berasal darimu. Begitu juga kata pahit, muka masam, langkah berpaling, juga bangkai dan kebrengsekan. Semuanya bercampur dalam pertemuan yang tak kebetulan itu. Bisa darimu tapi tentu saja lebih banyak berasal dariku.
Tiba saatnya aku menutup mata dan mematikan lampu. Dalam tidurku aku bermimpi, kalian datang, berbaris satu persatu, dalam kedekatan yang hangat, aku menyadari bahwa kalian adalah orang-orang khusus yang diutus oleh Tuhan, untuk meningkatkan kualitas spiritualku. Maaf dan terimakasih.
Tuhan Mengutusmu Untukku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Grab this Widget ~ Blogger Accessories Custumized by Yuniarto Rahardjo
0 komentar:
Posting Komentar
Comment